Home

Membaca Brexit

Keputusan mayoritas tipis rakyat Inggris untuk memilih Brexit alias hengkang dari Uni Eropa ibaratnya adalah kendaraan yang memutar balik tiba-tiba di tengah jalan tol bebas hambatan yang tenang namun menghanyutkan. Kepanikan dan ‘kekacauan’ sudah barang tentu tak terhindarkan menyusul keputusannya yang tidak terduga.

Tidak cuma memerosotkan nilai poundsterling hingga hampir sepersepuluhnya, putar balik tiba-tiba ini tak pelak memunculkan gejolak di pasar uang dunia, tidak terkecuali pasar Asia.

Terlepas dari gejolaknya yang tidak menenangkan itu, ancaman lebih besar konsekuensi Brexit nampaknya bakal datang lebih belakangan, tepatnya dari cara sebagian besar kita yang keliru mengeja dan membaca duduk persoalannya.

Reaksi Donald Trump dan beberapa kelompok Xenophobic sayap kanan yang menganggapnya sebagai sinyal terbaik bagi kembalinya kebijakan-kebijakan nasional yang fasis, tidak humanis dan anti-imigran adalah contoh yang berpeluang menjadi polutan terbesar dalam upaya mengembalikan kejernihan cara pandang terkait Brexit ini.

Ejaan Baru

Lantas dalam ejaan seperti apa kejutan Brexit ini seyogyanya kita baca? Pertama-tama, kita perlu memahami fenomena Brexit ini sebagai ijtihad terbaru masyarakat Inggris dalam merespon globalisasi. Dikatakan terbaru, sebab sebelumnya pernah muncul ijtihad serupa namun dengan hasil sebaliknya.

Dalam ijtihad terbaru itu, alih-alih mengikuti ritme cepat integrasi regional yang ditawarkan globalisasi, mayoritas tipis rakyat Inggris memilih mengembalikan peran penting negara sebagai aktor utama.

Sampai di sini mungkin ada pertanyaan, jika tujuannya itu mengapa pemerintah Inggris yang saat ini tengah berkuasa justru menolaknya?

Di sini sedikit rumit. Berbeda dengan mayoritas tipis rakyatnya yang memilih hengkang, Pemerintah Inggris di bawah David Cameron melihat mundurnya Inggris dari Uni Eropa bukan sebagai langkah prospektif dalam merespon tantangannya yang makin global belakangan ini. Sementara mayoritas tipis rakyat Inggris meyakini sebaliknya.

Dengan begitu, sketsa yang disuguhkan Inggris pasca Brexit tidak bersifat hitam putih, meski tidak juga penuh bercak seperti prospeknya di tangan Donald Trump dan konco-konconya.

Sebaliknya, layaknya kontestasi posisi terkait kebijakan publik umumnya, referendum Brexit adalah pertarungan pandangan yang sarat argumentasi di kedua sisinya.

Bagi kelompok yang menghendaki remain atau bertahan, integrasi regional dalam globalisasi adalah keniscayaan dan kesediaan negara untuk menanggung resiko kemunduran peran demi kelangsungannya adalah perkembangan tak terhindarkan.

Melalui kesediaannya untuk menyisakan ruang bagi aksi-aksi integratif di tingkat lintas negara itu, menurut mereka, berbagai persoalan dunia yang kian global kian lebih mudah didekati. Pendek kata, kalau pun ada masalah yang muncul pada prakteknya, akarnya pasti bukan karena terlalu overdosisnya integrasi tapi karena defisiensinya.

Dalam posisi dasar seperti itu, pendukung utama kubu remain adalah kelompok urban kosmopolit, profesional muda, pengusaha dan kelompok kepentingan lain yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas yang melintas bangsa. Fakta bahwa banyak orang muda dan warga London yang memilih remain menguatkan hal ini.

Kritik Integrasi

Berbeda dengan kubu remain, kubu leave percaya bahwa integrasi Uni Eropa gagal menghadirkan jawaban yang prospektif bagi tantangan dasar yang dihadapi Inggris sebagai negara bangsa. Alih-alih menyediakan jawab, Uni Eropa justru muncul sebagai sumber masalah baru.

Masalah yang dimaksud adalah kecenderungan birokratis dan teknokratis pengorganisasian yang defisit secara demokrasi. Berbeda dengan akuntabilitas pejabat publik di setiap negara demokrasi yang tersusun elastis terkait dinamika pemilihnya, para pejabat Uni Eropa terasing jauh dalam apartemen birokrasi bertingkat yang kedap dan susah diakses publik.

Bagi mereka, memindahkan kewenangan atas urusan yang menguasai hajat hidup dari tangan mereka yang tersusun secara demokratis kepada mereka yang defisit dalam kaitannya, sungguh tidak memiliki argumentasi kepublikan yang kuat.

Maka kendati tidak menutup mata akan kebutuhan dunia yang makin global, para pendukung kubu leave ini percaya bahwa solusi Uni Eropa tidak lagi memadai dalam kaitannya. Tetapi, di antara mereka terdapat perbedaan pandangan terkait alternatifnya.

Kelompok nasionalis konservatif percaya bahwa alternatif terbaiknya adalah mengembalikan sentralitas negara bangsa, sementara kaum kiri progresif percaya bahwa reformasi kelembagaan yang lebih fundamental diperlukan adanya.

Jika kaum nasionalis konservatif Inggris percaya bahwa Uni Eropa adalah proyek non-patriotik yang menjauhkan Inggris dari takdir imperial dan menjadikannya sekedar pelampung mewah bagi beban jaminan sosial Eropa,  kaum kiri progresif percaya bahwa Uni Eropa hanyalah proyek integrasi sepihak para pemodal yang tidak melibatkan kepentingan besar kaum buruh dan kaum papa di dalamnya.

Maka selain sesak oleh dukungan kaum nasionalis konservatif dan radikal ultra kanan di dalamnya; kubu leave memuat pula dukungan kaum kiri progresif dan kaum skeptik globalisasi pada sisinya. Kemenangan mereka pada kluster pemilih generasi tua dan wilayah-wilayah countryside Inggris membenarkan kecenderungan ini.

Sampai di sini, garis-garis keberpihakan sepenuhnya mengikuti peta umum keberpihakan dalam globalisasi. Yang agak beda adalah posisi resmi partai konservatif dan partai buruh Inggris yang berkebalikan dengan posisi mereka dalam referendum integrasi sejenis beberapa dekade sebelumnya. Kebutuhan terkait dinamika politik setempat nampaknya lebih menentukan ketimbang posisi umumnya dalam politik globalisasi.

Perbedaan serupa berlaku pula terkait posisi Skotlandia dan Irlandia Utara. Tetapi, terkait yang terakhir ini, oposisinya terhadap pilihan umum masyarakat Inggris sudah dapat diduga, mengingat permusuhan yang lama terpendam di antara mereka.

Alternatif Globalisasi?

Dengan demikian, pilihan mayoritas tipis masyarakat Inggris yang memilih leave meski memberikan kejutan yang tidak diharapkan pada proyek integrasi regional yang kini tengah berjalan di satu sisi, memberikan peluang bagi pengujian pendekatan alternatif dalam menyikapi tuntutan globalisasi di sisi lain.

Memang benar bahwa prosesnya tidak tunggal dan rawan penunggangan para bigot yang membonceng kesempatannya. Tetapi, jika kita percaya bahwa ini bukanlah pilihan dikotomis antara menjadi polyglot atau bigot, kemungkinan pilihan ketiga yang reformis dan humanis agar lebih berbicara perlu didorong adanya.

Tentu saja ini tantangan yang tidak mudah. Terlalu lama kita menerima globalisasi ini sebagai jalan tol yang membelah perkampungan kita. Selain angkuh dan kukuh dalam lalu lintas terpisah yang bergerak searah, tidak banyak ruang yang disisakan bagi pendekatan alternatifnya.

Karena itu, putar balik Inggris yang tiba-tiba sudah barang tentu menimbulkan kekacauan dalam kelangsungan lalu lintasnya. Semoga saja kekacauan itu berlangsung sementara dan menjadi harga yang layak bagi munculnya pendekatan alternatif yang lebih kreatif dan prospektif ke depannya.

Jika tidak, bukan hanya hampir separuh rakyatnya yang memilih remain, separuh lebih dunia pun telah siap mengutuknya

 

Surabaya, 23 Juni 2016

© jsusanto.com