Home

unjuk-kekuatan-tempur-tni

Peringatan hari jadi TNI ke 69 kali ini selain istimewa juga sarat makna. Selain menghadirkan unjuk kekuatan terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka, peringatannya kali ini juga menandai babak baru kesiagaan alat pertahanan kita menyusul tantangan dan dinamika kontemporer lingkungan eksternalnya.

Tak kurang 239 pesawat udara, 149 ranpur, 42 kapal perang dan 18 ribu personil terlibat dalam acara akbar yang dipusatkan di Surabaya ini. Selain menyemarakkan peringatan hari jadi TNI, demonstrasi alutsista secara masif ini, secara khusus juga dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan terbaru menyusul pembangunan kekuatan pokok minimum sepuluh tahun terakhir. Pernyataan terbuka Panglima TNI dalam gladi bersih beberapa waktu lalu secara tegas mengkonfirmasi ini.

Ini menarik, mengingat sejatinya kita tidak terbiasa dengan unjuk kekuatan militer berskala besar seperti ini. Bahwa ada banyak apel kesiagaan atau latihan gabungan berskala besar itu benar, tetapi unjuk kekuatan berprofil tinggi yang berpeluang memperbarui persepsi kekuatan dan mengirimkan pesan kesiagaan dan efek gentar keluar yang diperlukan secara umum tidak banyak dijumpai.

Unjuk Kekuatan vs Mentalitas Gerilya

Sebagai bangsa yang menyusun alat pertahanannya dalam suasana gerilya dan mempertahankan mentalitas gerilya dalam cara pandang stratejiknya, unjuk kekuatan berskala besar dan berdaya gentar keluar sejatinya bukan hal biasa.

Tidak seperti bangsa imperial yang berorientasi keluar dan terbiasa dengan permainan unjuk kekuatan demi meningkatkan daya gentar; sebuah bangsa yang menyusun alat pertahanannya dalam suasana gerilya anti-imperial selain tumbuh dalam keterbatasan daya dukung juga mendefinisikan diri dalam tujuan-tujuan pertahanan yang terbatas dan berorientasi ke dalam.

Sebagai konsekuensinya, alih-alih fokus mengejar keunggulan persenjataan, mentalitas gerilya cenderung memusatkan perhatian pada upaya pertahanan wilayah yang lebih realistis, di mana kekurangan pada aspek perlengkapan berusaha ditutupi dengan pengembangan fungsi dan relasi sumber daya manusia.

Di satu sisi ini mendorong pengembangan sumberdaya manusia yang tanggap dan tangguh, kendati di sisi lain juga dapat menjadi disinsentif bagi pengembangan teknologi dan persenjataan kemudian hari. Sistem pertahanan rakyat semesta yang berkembang dalam fondasi pengalaman dan menta-litas gerilya di masa revolusi fisik untuk kurun yang lama turut mewarisi cara pandang ini, apalagi di tengah pembelokannya menjadi doktrin dwi fungsi di bawah Orde Baru beberapa waktu lalu.

Reformasi dan Profesionalisme TNI

Tetapi memasuki reformasi, seiring dorongan demokratisasi, upaya bagi pengembalian profesionalitas tentara menguat. Tentara profesional bukan saja tentara reguler yang berbeda dari tentara gerilya yang cenderung tidak beraturan dan susah diduga, tetapi juga tentara yang selain tangguh dalam resistensi wilayah mampu memberikan efek gentar yang mampu melintas ke luar wilayah. Di sana pembangunan fungsi dan relasi sumberdaya manusia TNI perlu mendapatkan dukungan pembangunan kekuatan persenjataan yang tangguh.

Ini merupakan cara pikir tipikal reformasi terhadap TNI yang secara bersemangat ditangkap Pemerintahan Yudhoyono, terlebih dalam periode kedua kepemimpinannya. Memanfaatkan peluang yang diberikan pertumbuhan GDP yang meningkat dekade kedua reformasi, Pemerintahan Yudhoyono secara agresif mengakselerasi pembangunan kekuatan pokok minimum TNI. Selain menghasilkan pemenuhan lebih cepat target 30 persen kekuatan pokok minimumnya, akselerasi ini berpeluang memajukan finalisasi prosesnya dari target tahun 2024 menjadi 2019.

Unjuk kekuatan akbar TNI kali ini –selain menjadi kado terima kasih kepada Pemerintahan Yudhoyono — secara domestik juga dimaksudkan untuk melaporkan kemajuan pembangunan kekuatan ini. Yang tidak cukup terungkap adalah imperatif tak terlihat di balik unjuk kekuatan ini, terutama dalam kaitan konstelasi geopolitik kawasan yang menghangat belakangan ini.

Meski tidak secara tersurat diungkapkan, sulit untuk tidak mengaitkan unjuk kekuatan akbar ini dengan dinamika kawasan yang menghangat belakangan ini. Di antara dinamika kawasan yang aktual belakangan ini, selain polemik perbatasan dengan Malaysia dan Australia yang laten, ialah soal kembalinya ancaman dari utara: China.

Faktor China dan Tantangannya

Menyusul manuver China yang mengajukan klaim hak pencarian ikan atau fishing right di kawasan sengketa di sebelah selatan perairannya, kemungkinan bagi sebuah aksi unilateral China dalam menegakkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara yang secara langsung mengancam kedaulatan Indonesia di perairan Natuna nampaknya bukan isapan jempol lagi, terlebih jika dikaitkan fakta bahwa klaim China itu dalam beberapa titik juga melewati wilayah Natuna yang kaya gas alam itu.

Sebagai alat pertahanan yang utama, TNI menyadari betul ancaman dari utara ini. Dalam berbagai kesempatan para petinggi TNI tak jarang mengungkapkan kekhawatirannya soal ini. Akan tetapi, mereka juga menyadari bahwa akan menjadi kontraproduktif jika bereaksi berlebihan terhadap persoalan ini. Secara historis Indonesia bukan pihak dalam sengketa wilayah di selatan perairan China dan melibatkan diri dalam persengketaan secara tergesa-gesa juga bukan tindakan bijaksana.

Pada kesempatan yang sama, di internal TNI sendiri menguat konsensus bahwa sebagai negara besar di kawasan yang menaruh kepentingan besar terhadap keamanan di sekitar perairan itu, Indonesia wajib menunjukkan kepada setiap negara yang berkepentingan agar menghormati posisinya. Di situlah pilihan pada unjuk kekuatan tidak langsung tetapi cukup menginformasikan kemajuan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia menemukan relevansinya. Dipilihnya peringatan hari jadi TNI dan Kota Surabaya sebagai locus unjuk kekuatan itu mengkonfirmasi ini.

Berbeda dengan Pontianak yang terlalu dekat China dan Malaysia, atau Kupang yang terlalu dekat Australia, Surabaya menyediakan jarak yang cukup untuk membuat unjuk kekuatan ini tidak terlalu provokatif bagi negara tetangga tetapi cukup informatif bagi mereka. Seperti dijelaskan sebelum-nya, ini adalah bagian dari kesiagaan preventif yang selektif dan harus dihindarkan dari kemungkinan memancing rebalancing yang kontraproduktif.

Di sisi lain, keberadaan Surabaya sebagai kota terbesar kedua dan pusat angkatan laut yang penting, selain menyediakan dukungan infrastruktur yang diperlukan bagi unjuk kekuatan terbesar yang melibatkan semua matra, secara strategis juga mengaksentuasi perhatian dan kemauan politik domestik yang meningkat terhadap arti penting posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Sampai di sini, selain menggarisbawahi kewaspadaan dini alat pertahanan kita terkait tantangan lingkungan eksternalnya, unjuk kekuatan kali ini lebih jauh juga menegaskan tekad TNI untuk meningkatkan kepekaan seiring pergeseran dinamikanya. Mempertimbangkan tantangan dinamika kawasan yang kian menyinggung kedaulatan Indonesia sebagai poros maritim dunia, kewaspadaan dan kepekaan ini tentu layak diapresiasi adanya.

Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia.

 

Surabaya, 7 Oktober 2014

© jsusanto.com