Home

Superman Selfie

Di tengah wajah-wajah yang sibuk memagut diri, membincang kepahlawanan sesungguhnya bukan persoalan seksi. Dalam dunia yang sibuk berselfie, etos kepahlawanan sejatinya terancam kehilangan relevansi.

Pemahaman besar yang membalik kesadaran karenanya perlu dikemukakan kembali.

Lebih dari sekedar nama bagi gaya memotret diri, selfie adalah sub-kultur populer hari ini. Tidak hanya menghinggapi kaum muda belia, pemimpin negara adidaya pun tak kuasa membebaskan diri dari serbuan demam selfie.

Oleh sebab sub-kultur sosial senantiasa bekerja dalam kuasa nilai utama, mengetahui bagaimana sub-kultur itu bekerja dan membawa dampak bagi kelangsungan nilai-nilai sosial utama kiranya relevan terkait peringatan hari pahlawan kali ini.

Kepahlawanan sebagai Dharma Sosial

Kendati melekat dalam pribadi, kepahlawanan adalah kisah tentang dharma sosial, sebuah kisah kebajikan publik dalam tingkatan tertinggi.

Di dalam kepahlawanan, kita tidak saja menjumpai pribadi yang gagah berani, tetapi juga jiwa yang membaktikan diri pada keutamaan suatu nilai.

Itulah sebab kepahlawanan tidak pernah mewujud dalam aksi-aksi individual yang diproklamirkan, tetapi mengada dalam pengakuan sosial yang muncul kemudian.

Seseorang tidak menjadi pahlawan karena memproklamirkan diri, ia menjadi pahlawan karena laku kebajikan publiknya yang sedemikian tinggi dan berkumandang lintas generasi.

Dalam kultur Yunani Kuno, kumandang lintas generasi itu disebut kleos, sebuah kisah kebajikan publik yang didendangkan temurun dari generasi ke generasi. Sementara budaya India yang simbolik menyebutnya sebagai kisah tentang dharma seseorang yang berbuah.

Bila kata heros dalam bahasa yunani senantiasa dikaitkan dengan kata kleos, kata pahlawan dalam bahasa sansekerta senantiasa berhubungan dengan kata phala yang artinya buah.

Dalam kaitan itu, maka kepahlawanan sesungguhnya bukan kisah tentang orang-orang besar, melainkan kisah tentang orang-orang yang berjiwa besar.

Padanya tidak terkumpul kisah pribadi-pribadi kerdil yang mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan semesta jiwa-jiwa besar yang mengabdikan diri pada keutamaan nilai-nilai sosial yang lebih tinggi.

Selfie dan Orientasi Pribadi

Tetapi dalam dunia yang mewujud dalam popularitas budaya selfie, masa depan nilai-nilai kepahlawanan ini terancam kehilangan relevansi.

Bukan semata karena popularitas budaya selfie, lebih karena budaya selfie tidak pernah hadir sendiri tapi menyeruak sebagai sub-kultur sistem nilai individualisme yang kian mendapatkan tempat dalam globalisasi.

Dalam dunia yang berselfie, pusat perhatian utama adalah diri, bukan dunia sekitar di mana ia berdiri.

Kendati pengertian diri ini bisa perorangan atau sekumpulan orang, ia selalu saja bukan tentang lingkungan sosial yang lebih besar. Posisi terbaik lingkungan sosial dalam dunia selfie adalah sebagai latar bagi ekspresi diri.

Selain menyuburkan narsisme pribadi, dunia jenis ini membawa ongkos pengabaian sosial. Alih-alih meningkatkan kepedulian sosial, ia memusatkan perhatian pada peningkatan eksistensi diri.

Maka tak jauh dari dunia yang sibuk berselfie adalah kultur selebritas yang mengutamakan sosok ketimbang pokok, mengedepankan popularitas di atas integritas, memuja eksistensi di atas signifikansi.

Adalah dalam kaitan orientasi diri yang berlebih ini, kegalauan tumbuh sebagai mode kegelisahan sosial. Ini ironis mengingat kegalauan dan kegelisahan sejatinya berbeda.

Kegelisahan mencakup nasib lingkungan sekitar, sementara kegalauan sepenuhnya menyoal nasib pribadi. Selain meng-indikasikan orientasi diri yang berlebih, maraknya kegalauan mengindikasikan mundurnya kegelisahan sosial.

Padahal sejarah mencatat bahwa kejuangan dan kepahlawanan adalah buah dari kepedulian dan kegelisahan sosial. Aksi kepahlawanan tidak tumbuh dari kegalauan melainkan buah kegelisahan.

Kepahlawanan Shodanco Soeprijadi, misalnya, adalah buah kegelisahan terhadap nasib romusha yang mengetuk perlawanan. Sementara kepahlawanan Bung Tomo adalah  buah kegelisahan terhadap kemungkinan kembalinya Belanda yang membonceng sekutu di Surabaya.

Maka kendati tak lupa berpose gagah dalam orasinya, Bung Tomo sesungguhnya tidak sedang memproklamirkan diri, tetapi mengumandangkan seruan jihad nan magis bagi penyelamatan negri.

Sementara dalam epilog yang lebih dramatis lagi, Shodanco Soeprijadi bahkan menghilang tanpa jejak manakala aksi kejuangannya yang gagah berani tengah menuai apresiasi tinggi.  Seperti Bung Tomo yang tidak berselfie, Shodanco Soeprijadi tidak berjuang demi eksistensi diri.

Saatnya Membalik Kamera

Dari sini dunia tempat kita tinggal sejatinya menunggu langkah-langkah besar. Akan tetapi, ini tidak lantas berarti pemberangusan atas segala yang berbau selfie. Selfie hanyalah symptom dari patogen sosial yang lebih berbahaya.

Berfokus pada pembangunan kesadaran akan bahaya egoisme, narsisme dan kultur selebritas yang membenam seiring popularitas budaya selfie jauh lebih penting dari pada menghabiskan energi pada pemberangusan itu sendiri.

Lazimnya budaya populer, budaya selfie akan luruh dengan sendirinya seiring kejenuhan publik atasnya. Tetapi tidak demikian halnya dengan nilai sosial yang dibawanya.

Menyadari bahaya dari setiap nilai yang diusungnya adalah jaminan terpenting kelangsungan kejuangan dan kepahlawanan sosial zaman ini.

Maka melebihi arti penting usaha-usaha otoriter bagi pemberangusan selfie adalah membangkitkan kesadaran tentang perlunya membalik kamera.

Setelah beberapa saat menjadikan diri sebagai fokus perhatian utama, saatnya telah tiba untuk menjadikan perikehidupan sosial sebagai mekkah-nya perhatian kita.

Di situ pula kiranya pahlawan zaman ini menemukan salah satu panggilan besarnya. Selamat hari pahlawan, Indonesia.

 

Surabaya, 10 November 2013

© jsusanto.com