Home

Arafat Ten Years Later.jpg

Sebagian masyarakat Barat masih menganggapnya troublemaker; seorang teroris yang menarik perhatian, bahkan di hari menjelang penguburannya.

Tak kurang Perdana Menteri Australia John Howard –negara berbatasan langsung dengan negeri berpenduduk muslim terbesar di mana Yasser Arafat mendapatkan penghormatan luas—tak lupa membubuhkan “ungkitan” di belakang ucapan bela sungkawa publik pemimpin Australia itu menyusul meninggalnya Arafat. Dengan nada mengungkit, Howard menyatakan bahwa  Arafat yang meninggal hari ini adalah orang yang telah menyia-nyiakan kesempatan terbaik untuk mengupayakan “perdamaian” bagi negeri yang diperjuangkan.

Sedikit lebih halus dari Howard, Presiden Amerika Serikat George W Bush menyebut kematian Arafat sebagai “momen penting”, “sebuah jalan pembuka bagi perdamaian”, sebuah ungkapan yang bisa berarti kegembiraan atas kesedihan.

Mengungkapkan sisi negatif dan kegembiraan di tengah suasana perkabungan bukan kebiasaan dalam budaya Barat. Bahkan, jika budaya Timur lebih mengungkapkan penghormatan mendiang dalam gaya non-verbal (tidak diomongkan), budaya Barat justru sebaliknya. Oleh karena itu, selain berlawanan dengan pernyataan simpatik pemimpin dunia –juga Eropa—pernyataan kurang simpatik Bush dan Howard juga berlawanan dengan tradisi orang Barat umumnya.

Orang seperti apakah yang mampu membuat dua pemimpin kunci masyarakat Barat melanggar tradisi kepantasan publik pemaafan dan penghargaan mendiang masyarakat Barat yang sakral, bahkan di hari menjelang detik-detik penguburannya?

Kontroversi dan Simbolisasi

Pemimpin Palestina Yasser Arafat sepertinya ditakdirkan hidup bersama kontroversi. Dari mulai tempat kelahiran, sejarah hidup hingga kematian, semuanya penuh dengan kontroversi. Orang sampai sekarang masih bertanya apakah ia lahir di Kairo ataukah Gaza karena Arafat sering menyebutkan keduanya. Satu-satunya biografi paling representatif tentangnya ditulis dengan judul yang tak kalah kontroversi, “Arafat: Teroris atau Pendamai”(Hart, 1989). Terakhir, hampir seperti Mark Twain, setelah sempat mengundang kontroversi, sejarah kematian Arafat pun ditulis dengan beragam versi.

Yang menarik, di tengah kontroversi yang menjadikannya sasaran kritik, Arafat adalah seorang tokoh yang senantiasa lolos dari bahaya kontroversi. Banyak pemimpin segera kehilangan citra innocent, citra tanpa dosa, begitu terlanda kontroversi. Tapi Arafat tidak. Kontras dengan citranya sebagai teroris yang kental di mata sebagaian penduduk dunia, sedikit sekali pemimpin yang kehilangan pamor dengan sekedar berfoto berdua dengannya di media massa. Banyak pemimpin dunia tidak akan berfoto dengan Osama bin Laden andaikata sempat, tapi banyak pemimpin dunia bersedia melakukannya bersama Arafat.

Thomas L. Friedman, seorang Yahudi, kolumnis harian New York Times terkenal, dalam sebuah catatan perjalanan yang sinis tentang Arafat bersama PLO-nya, pun mengakui hal ini (Friedman, 1989). Dalam istilahnya sendiri, Friedman menyebut Arafat sebagai “gerilyawan Teflon” berkat keberhasilannya melepaskan diri dari noda kesalahan ataupun pencitraan kontroversial yang melingkupinya. Dalam banyak kesempatan PLO bisa dianggap gagal, tapi Arafat tidak akan pernah benar-benar dipersalahkan.

Kekuatan dibalik semua itu adalah kemampuan Arafat untuk menjadikan dirinya simbol. Bagi orang Palestina Arafat adalah Bapak sekaligus simbol kebangkitan Palestina sebagai Bangsa. Tapi simbolisasi Arafat berlangsung jauh. Ia tidak saja simbol kebangkitan Palestina, ia adalah simbol perlawanan mereka yang tidak berpunya (dispossession people) melawan kekuatan super-raksasa. Dalam kekuatan itu, pesona Arafat berlangsung jauh melampui kisah bangsa Palestina. Arafat bukan lagi kisah bangsa Palestina, Arafat telah menjadi kisah dunia.

Yang mengagumkan, Arafat menjalankan semua itu dalam cara-cara yang orisinil; diplomasi berbasis media atas kekerasan yang didramatisir. Sebagaian orang menyebut itu terorisme. Tapi saya lebih suka menyebutnya “diplomasi orang-orang tak berpunya”.

Harus dibedakan antara terorisme dengan dispossesionist diplomacy. Jika kita belajar sejarah Palestina dengan baik, kita akan mendapati bahwa siapa pun pejuang politik yang cerdas akan menjadi seorang Arafat.

Sebagai bangsa tua, Palestina tidak cukup beruntung. Ia tertinggal di balik roda manakala bangsa-bangsa dunia ketiga bergerak menuju kemerdekaanya. Ia adalah korban “persekongkolan” Barat yang ingin membuang jauh-jauh persoalan Yahudi dari wilayahnya. Dari pada terus menerus menciptakan masalah di dalam negeri, sebuah negara Yahudi nun jauh di sana yang akan menarik orang-orang Yahudi kembali dipandang sebagai gagasan ideal bagi sebagian besar kekuatan Barat waktu itu. Itu lah sebab Deklarasi Balfour yang mengesahkan pembentukan negara Yahudi di atas tanah Palestina meluncur hampir tanpa keberatan.

Bagi orang-orang Palestina persoalannya lebih kompleks lagi. Belum juga berhasil mendefinisikan sebagai bangsa, mereka sudah harus kehilangan wilayah akibat pemukiman dan pendudukan Yahudi yang terus meluas. Tidak hanya dilucuti, Palestina sebagai bangsa tengah berusaha dihapus dari ingatan sejarah.

Di tengah ketidakberpihakan sistem seperti itulah, seorang Arafat tumbuh. Sebagai orang yang besar dalam kekalahan beruntun koalisi Arab melawan Israel, tidak banyak harapan menggantung sebenarnya untuk seorang pejuang kemerdekaan Palestina. Tapi untunglah, dunia tengah bergerak dalam globalisasi media yang masif. Sebagai anak muda yang selalu mencari cara, ia melihat celah di balik itu.

Sebagai pejuang sebuah bangsa yang hampir terlupakan, tidak ada yang lebih penting selain menarik kembali perhatian dunia atas keberadaannya. Kekerasan dan kontroversi yang ditampilkan Arafat bersama PLO-nya harus dipahami dalam kerangka itu. Kita tidak pernah berfikir bahwa kaffiyeh hitam-putihnya yang khas memang ia sengaja untuk memudahkan ingatan publik terhadapnya, memudahkan ingatan public atas perjuangan Palestina. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Playboy –kesediaannya diwawancara juga merupakan kontroversi—yang bertanya kenapa ia selalu memakai atribut yang khas ia menjawab, “bukankah itu sebuah ide cerdas?”.

Arafat sadar betul bahwa ancaman terbesar bagi Palestina adalah dilupakan sejarah. Dalam konteks itu ia jauh dari berhasil. Tidak saja berhasil membawa Palestina dalam “jam siaran penting” acara-acara berita dunia, ia berhasil mengukuhkan diri sebagai simbol perjuangan “orang tak berpunya” melawan “si raksasa”. Seperti pertempuran melawan Goliath, Arafat adalah Davidnya.

Kerinduan Hari Ini

Di tengah dunia yang terbelah antara mereka yang berpunya dan tidak berpunya, kepergian Arafat sepuluh tahun lalu adalah kehilangan yang dalam bagi dunia. Kini, sepuluh tahun kemudian, dunia masih merindukannya. Tidak hanya rindu kafiyyeh hitam-putih dan senyumnya yang khas, tetapi juga simbolisasinya bagi perjuangan melawan penindasan kaumnya.

Seperti perjuangan Palestina yang masih menyisakan perjuangan untuk mendapatkan tanah dan status kenegaraan, perjuangan terhadap penindasan kaum-berpunya masih menyisakan persoalan ketiadaan ruang hidup dan pengakuan bagi mereka yang tidak berpunya. Sebuah persoalan yang diselesaikan dengan baik oleh Arafat semasa hidupnya. Mungkin karena itu pula, di tengah kontroversi kisah hidupnya, kerinduan akan kehadirannya terus bergema, di Palestina dan di bumi-bumi tertindas lainnya. Sebuah kerinduan yang langka, tapi nyata.

 

Surabaya, 12 November 2014

© jsusanto.com